Example floating
Example floating
PemerintahanRegionalUmum

Humbang Hasundutan Perkuat Aksara Batak dalam Pendidikan dan Pariwisata Budaya

541
×

Humbang Hasundutan Perkuat Aksara Batak dalam Pendidikan dan Pariwisata Budaya

Share this article
Example 468x60

Radarinterpol.com-Humbahas,-Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) menegaskan komitmennya dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya lokal melalui penguatan Aksara Batak dalam dunia pendidikan dan pariwisata daerah.

Langkah strategis ini menjadi tonggak penting untuk membangun karakter generasi muda serta memperkuat identitas budaya Batak Toba sebagai kebanggaan nasional.

Aksara Batak: Dari Warisan Leluhur Menuju Kurikulum Masa Kini

Aksara Batak merupakan sistem tulisan kuno masyarakat Batak yang telah digunakan berabad-abad lamanya untuk menulis surat, naskah adat, dan teks keagamaan. Berbeda dari huruf Latin, aksara Batak bersifat silabis—setiap huruf melambangkan satu suku kata—dan kaya makna filosofis.

Namun, seiring perkembangan zaman, huruf Latin menggantikan peran aksara Batak, membuatnya perlahan terpinggirkan. Melihat kondisi itu, Pemkab Humbang Hasundutan melalui Dinas BKPSDM di bawah pimpinan Benyamin Nababan bertekad menghidupkan kembali aksara Batak lewat kebijakan penguatan muatan lokal dalam Kurikulum Merdeka.

“Aksara Batak bukan sekadar tulisan, tetapi jati diri dan kebanggaan masyarakat Batak. Dengan memasukkannya ke kurikulum, kita sedang membangun generasi yang mengenal dan mencintai budayanya sendiri,”ujar Benyamin Nababan.

Kebijakan ini membuka ruang bagi sekolah-sekolah di Humbang Hasundutan untuk mengajarkan aksara Batak melalui mata pelajaran Bahasa Daerah, Seni Budaya, serta Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

Siswa diajak menulis nama mereka, membuat kaligrafi Batak, hingga memahami filosofi di balik ukiran gorga tradisional.

Menulis Identitas: Hita do anak ni Humbang Hasundutan

Salah satu contoh tulisan yang mulai diperkenalkan di sekolah adalah kalimat sederhana penuh makna: “Hita do anak ni Humbang Hasundutan”

(Kita adalah anak Humbang Hasundutan)

Tulisan ini kini mulai digunakan di sejumlah sekolah dan kantor pemerintahan di Doloksanggul sebagai simbol kebanggaan daerah. Banyak siswa yang kini mampu menulis nama mereka sendiri menggunakan aksara Batak—suatu kebanggaan yang mulai tumbuh di generasi muda Humbahas.

“Ketika anak-anak bisa menulis dalam aksara Batak, mereka bukan hanya belajar bahasa, tapi belajar mencintai asal-usulnya,”kata Dina Simamora , Plt Disparpora di Doloksanggul.

Dari Sekolah ke Pariwisata: Aksara Batak Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

Langkah pelestarian aksara Batak tidak berhenti di ruang kelas. Pemkab Humbang Hasundutan juga menjadikannya bagian integral dalam pengembangan pariwisata budaya dan ekonomi kreatif.

Bupati Humbang Hasundutan, Dr. Oloan Paniaran Nababan, SH, MH, menilai pelestarian aksara Batak memiliki nilai strategis yang besar, tidak hanya untuk pendidikan tetapi juga untuk branding pariwisata daerah.

“Aksara Batak adalah simbol peradaban. Dengan menampilkannya di tempat wisata, monumen, dan gedung pemerintahan, kita tidak hanya memperindah tampilan, tetapi memperkenalkan identitas budaya Batak Toba kepada dunia,” ujar Bupati Oloan Nababan.

Beberapa kawasan wisata seperti Baktiraja, Pollung, dan Tipang kini sudah mulai menerapkan papan petunjuk dengan tulisan ganda—huruf Latin dan Aksara Batak.

Selain itu, para pengrajin lokal juga mengembangkan produk suvenir seperti ukiran kayu, kain ulos, dan tas batik dengan motif tulisan Batak, memperkuat citra Humbang Hasundutan sebagai daerah wisata edukatif (edutourism) yang berakar pada budaya leluhur.

Contoh kalimat lain yang sering digunakan dalam promosi pariwisata:

“Aksara Batak do hamoraon ni Bangso.”

(Aksara Batak adalah kebanggaan bangsa.)

Tulisan ini mulai terpampang di gapura dan monumen budaya di pusat kota Doloksanggul, menjadi pesan visual yang memadukan keindahan seni dengan kebanggaan lokal.

Pelestarian yang Menggerakkan Ekonomi dan Karakter

Dampak pelestarian aksara Batak kini mulai terasa di berbagai sektor.

Dari sisi pendidikan, siswa memperoleh wawasan budaya yang lebih luas serta karakter yang kuat berakar pada nilai-nilai daerah.

Dari sisi sosial, masyarakat semakin bangga menampilkan budaya sendiri.

Sementara dari sisi ekonomi, aksara Batak membuka peluang bagi industri kreatif, mulai dari desain grafis, fesyen, hingga dekorasi wisata.

Pemerintah daerah juga tengah menyiapkan pelatihan guru aksara Batak dan pengembangan bahan ajar digital, agar pembelajaran lebih menarik dan adaptif dengan zaman.

Selain itu, komunitas budaya Batak diundang untuk turut serta dalam festival dan lomba menulis aksara Batak tingkat pelajar.

“Aksara Batak harus hidup di semua ruang — di sekolah, di rumah, di papan nama jalan, bahkan di dunia digital. Ini adalah cara kita menjaga warisan sambil membangun masa depan,” tegas Bupati Oloan Nababan.

Aksara Batak: Simbol Keberlanjutan Budaya

Upaya Humbang Hasundutan menghidupkan kembali aksara Batak merupakan contoh nyata bagaimana pendidikan dan pariwisata dapat bersinergi membangun peradaban lokal.

Langkah ini bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan strategi masa depan yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan kebanggaan identitas.

Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, pelaku pariwisata, dan masyarakat, Humbang Hasundutan kini menapaki jalan sebagai “kabupaten budaya” yang menempatkan aksara Batak di pusat pembangunan karakter dan ekonomi kreatif.

Dan seperti semboyan yang mulai dikenal di seluruh penjuru Humbang Hasundutan:

“Marsangap hita!”. (Tetap semangat kita!)

Tulisan sederhana itu kini menjadi simbol semangat baru:

semangat untuk melestarikan budaya leluhur dan menulis masa depan dengan aksara sendiri. (P.Lumbangaol)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *