Radarinterpol.com-Humbahas,- Suasana haru menyelimuti Desa Panggugunan, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, ketika prosesi tabur bunga digelar sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi korban banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut beberapa hari lalu. Upacara ini menjadi momen penutup masa pencarian korban, namun sekaligus membuka babak baru pemulihan bagi warga yang terdampak.
Dalam prosesi yang penuh keheningan itu, hadir Wakil Ketua DPRD Humbang Hasundutan, Marsono Simamora, bersama istrinya Normauli Simarmata, yang juga merupakan Anggota DPRD Humbahas dari Partai NasDem. Kehadiran keduanya memberi dukungan moral dan membawa pesan kuat bahwa wakil rakyat tetap hadir berdampingan dengan masyarakat di tengah masa sulit.
Deru angin pegunungan seolah menjadi latar alami saat ratusan warga, relawan, tokoh adat, aparat pemerintah, dan Forkopimda berdiri berjejer di tepian lokasi longsor. Gumpalan tanah yang masih basah menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya bencana yang menimpa desa ini.
Marsono dan istrinya tampak khidmat menaburkan bunga di lokasi ditemukannya korban terakhir. Raut wajah keduanya memancarkan rasa duka mendalam. Beberapa warga yang melihat momen itu tak kuasa menahan air mata — merasa diperhatikan, merasa tidak sendiri.
Prosesi doa bersama dipimpin oleh pemuka agama setempat. Doa-doa dipanjatkan untuk ketenangan arwah korban, keselamatan warga yang selamat, dan kekuatan bagi keluarga yang berduka. Suasana menjadi semakin syahdu ketika seluruh peserta tabu bunga menundukkan kepala, larut dalam keheningan.
Usai prosesi, Marsono menyampaikan belasungkawa dan komitmen untuk terus mendampingi warga dalam masa pemulihan.
“Kami hadir bersama istri bukan hanya sebagai wakil rakyat, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat Humbang Hasundutan. Musibah ini adalah duka kita bersama, dan kami berkomitmen mendampingi proses pemulihan sampai warga kembali stabil,” ujar Marsono.
Ia menegaskan bahwa bencana ini bukan hanya menguji ketangguhan fisik warga, tetapi juga ketabahan mental dan kebersamaan. Karena itu, pihaknya mendorong agar bantuan sosial, rehabilitasi infrastruktur, serta pendampingan psikososial segera dimaksimalkan.
Normauli Simarmata, yang turut mendampingi sejak awal masa tanggap darurat, juga memberikan penguatan kepada para ibu, keluarga korban, dan warga relokasi. Ia menyampaikan bahwa NasDem melalui kader-kadernya di daerah akan terus bergerak untuk membantu pemulihan warga.
Tabur bunga ini menjadi simbol bahwa operasi pencarian dan penyelamatan telah tuntas. Namun bagi warga, ini bukan akhir perjuangan—melainkan awal menghadapi fase baru yang tidak kalah berat: bangkit dari kehilangan.
Banyak rumah rusak, akses jalan di beberapa titik masih terbatas, dan sejumlah fasilitas umum membutuhkan perbaikan. Pemerintah daerah kini fokus pada pembersihan jalur, perbaikan jembatan darurat, dan penyaluran logistik bagi warga terdampak.
Kehadiran para wakil rakyat, termasuk Marsono dan istrinya, menjadi penegas bahwa pemerintah daerah dan legislatif tetap kompak mendukung langkah-langkah pemulihan.
Acara diakhiri dengan penghormatan kepada relawan dan tim penyelamat yang bekerja tanpa lelah selama masa tanggap darurat. Beberapa di antara mereka bahkan menahan keharuan saat nama-nama korban disebutkan dalam doa.
Semua pihak berharap, dengan kebersamaan dan gotong royong, Desa Panggugunan dapat bangkit kembali, lebih kuat dari sebelumnya. (P.Lumbangaol)
















