HUMBAHAS, RADARINTERPOL.COM – Upaya menjaga kelestarian Danau Toba tidak selalu harus dimulai dari program besar dan biaya yang tinggi. Dari dapur rumah tangga, sebuah gerakan sederhana namun berdampak luas berhasil diwujudkan oleh Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DPC Kabupaten Humbang Hasundutan melalui kegiatan penuangan Eco-Enzyme di perairan Danau Toba, Selasa (16/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Gereja Katolik St. Mikael Desa Simangulampe, Kecamatan Baktiraja tersebut menjadi simbol kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan sekaligus bentuk dukungan terhadap upaya menjaga Danau Toba sebagai salah satu destinasi wisata prioritas nasional.
Eco-Enzyme yang digunakan dalam kegiatan tersebut merupakan hasil fermentasi limbah organik rumah tangga seperti kulit buah dan sayuran yang dikumpulkan oleh anggota WKRI dari rumah masing-masing. Limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai berhasil diolah menjadi cairan yang memiliki manfaat bagi lingkungan.
Ketua DPC WKRI Humbang Hasundutan, Rohani Sianturi, menjelaskan bahwa gerakan tersebut tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan Danau Toba, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap pengelolaan sampah rumah tangga.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk melihat bahwa setiap rumah tangga memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan. Sampah organik yang selama ini dibuang begitu saja ternyata dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.
Menurutnya, pelestarian lingkungan tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar upaya menjaga ekosistem Danau Toba dapat berjalan secara berkelanjutan.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan. Bupati Humbahas melalui Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan, Perekonomian dan Pembangunan, Parman Lumban Gaol, menyampaikan apresiasi atas langkah nyata yang dilakukan WKRI.
Menurutnya, aksi penuangan Eco-Enzyme merupakan contoh kolaborasi yang baik antara masyarakat, organisasi keagamaan dan pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Danau Toba merupakan aset yang sangat berharga bagi masyarakat. Karena itu, setiap upaya menjaga kebersihan dan kelestariannya patut mendapat dukungan. Apa yang dilakukan WKRI hari ini menjadi contoh bahwa kepedulian lingkungan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata,” katanya.
Selain penuangan Eco-Enzyme, kegiatan tersebut juga menjadi sarana edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pengurangan sampah organik dan pengelolaan limbah berbasis rumah tangga. Para peserta diberikan pemahaman mengenai proses pembuatan Eco-Enzyme yang relatif mudah dan dapat dilakukan oleh setiap keluarga.
Moderator WKRI Humbang Hasundutan, Pastor Siprianus Jegaut, SVD, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari panggilan moral untuk menjaga ciptaan Tuhan. Semangat tersebut sejalan dengan pesan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ yang mengajak umat manusia untuk lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup.
“Pertobatan ekologis harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Menjaga alam berarti menjaga kehidupan manusia itu sendiri. Danau Toba bukan hanya milik kita hari ini, tetapi juga milik generasi yang akan datang,” ungkap Pastor Siprianus.
Suasana kegiatan berlangsung penuh semangat dan kebersamaan. Para peserta tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara mulai dari sosialisasi, penyerahan simbolis Eco-Enzyme, hingga penuangan langsung ke perairan Danau Toba menggunakan kapal yang telah disiapkan panitia.
Melalui gerakan ini, WKRI Humbang Hasundutan berharap semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam aksi-aksi pelestarian lingkungan. Dengan langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, kualitas lingkungan Danau Toba diyakini dapat terus terjaga sehingga tetap menjadi sumber kehidupan, kebanggaan masyarakat Batak, serta destinasi wisata unggulan Indonesia yang lestari dan berkelanjutan. ( P Lumbangaol )
















