Example floating
Example floating
PemerintahanRegionalUmum

Pemimpin di Garis Depan: Apel Bencana Humbahas Bongkar Beda Aksi dan Retorika ‘Di Balik Layar’

494
×

Pemimpin di Garis Depan: Apel Bencana Humbahas Bongkar Beda Aksi dan Retorika ‘Di Balik Layar’

Share this article
Example 468x60

Radarinterpol,com-Humbahas,- Ketika bencana mengguncang Humbang Hasundutan, sebuah kenyataan pahit kembali muncul ke permukaan:

rakyat tidak butuh komentator, rakyat butuh pemimpin.

Dan Sabtu pagi itu, jawabannya terlihat jelas di lapangan apel tanggap bencana.

Di sana berdiri Bupati Humbang Hasundutan, Dr. Oloan P. Nababan, S.H., M.H., bukan dengan kata-kata manis, melainkan dengan sepatu lapangan yang berdebu dan komando yang tegas.

Tidak ada musik penyambut.

Tidak ada kamera yang diundang khusus.

Tidak ada panggung yang ditinggikan—yang tinggi hari itu hanyalah rasa tanggung jawab.

Barisan panjang TNI, Polri, BPBD, relawan, perangkat kecamatan dan desa membentuk formasi siaga darurat. Dan di depan mereka, sang Bupati berdiri tanpa basa-basi.

Di saat medan lapangan menjadi saksi, perbedaan karakter pun terlihat tajam:

Ada pemimpin yang hadir saat rakyatnya membutuhkan.

Ada juga mereka yang hanya muncul ketika kamera mencari wajah baru untuk dipuji.

Di luar sana, sebagian pihak memilih bersuara lantang di media sosial, membangun opini tanpa data, menyindir tanpa memahami medan.

Namun pada hari itu, mereka tidak tampak.

Tidak ada di barisan.

Tidak ada di medan.

Tidak ada bagi rakyat.

Justru senyap seperti selama ini mereka menyoraki, tapi tak pernah membantu.

Di sisi Bupati, Kapolres Humbahas berdiri tegak dengan ketegasan komandonya. Garis Provos di belakangnya menegaskan bahwa operasi ini bukan formalitas, melainkan perang nyata melawan ancaman bencana.

Dua figur ini mematahkan banyak tudingan yang selama ini berseliweran di ruang publik.

Sebab kepemimpinan tidak diukur dari video pendek atau caption panjang.

Kepemimpinan diukur dari keberanian berdiri di barisan paling depan ketika rakyat dalam bahaya.

Dan pada Sabtu itu, yang berdiri di sana bukan pencari perhatian, tetapi penjaga keselamatan.

Rakyat yang hadir menonton apel itu tidak hanya melihat barisan.

Mereka melihat kebenaran yang sulit untuk dibantah:

Bahwa pemimpin yang sungguh bekerja akan hadir, bahkan ketika cuaca buruk menghalangi.

Bahwa mereka yang selama ini rajin membuat tudingan tajam ternyata menghilang begitu tanah longsor mulai berbicara.

Bahwa komentar pedas tanpa aksi hanya menambah bising, bukan solusi.

Dekat bencana, watak manusia tidak butuh diterjemahkan—terlihat dengan sendirinya.

Dan rakyat Humbahas hari itu menyaksikan, dengan mata kepala sendiri, siapa yang berdiri bersama mereka.

Apel gabungan ini menjadi tamparan halus, namun keras, bagi siapa pun yang selama ini sibuk menggiring opini tanpa kontribusi nyata.

Humbang Hasundutan sedang diuji.Dan di tengah ujian ini, yang dibutuhkan adalah:

tindakan, bukan komentar kosong; keberanian, bukan drama digital;pemimpin lapangan, bukan selebritas instan.Hari itu, pemimpin itu ada.

Tidak datang untuk dipuji, tetapi untuk memastikan tidak ada warga yang dibiarkan menghadapi bencana sendirian.

Bencana selalu membuka tabir.Siapa bekerja akan terlihat. Siapa berpura-pura pun terlihat.

Dan pada Sabtu pagi itu, tabir itu terangkat dengan sangat jelas:

Bupati Oloan P. Nababan berada di garis depan.Kapolres Humbahas berada di sisi rakyat.Aparat dan relawan berada dalam satu komando.

Sementara mereka yang selama ini paling ribut di ruang komentar—tidak terlihat bahkan bayangannya.

Humbang Hasundutan tidak membutuhkan pahlawan karbitan.

Humbang Hasundutan membutuhkan pemimpin.Dan pagi itu, pemimpin itu hadir — bukan untuk panggung, tetapi untuk rakyat. (P Lumbangaol)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *